BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia
adalah makhluk sosial dimana setiap individu mempunyai potensi untuk terlibat
dalam hubungan sosial pada berbagai tingkat hubungan, yaitu dari hubungan intim
biasa sampai hubungan saling ketergantungan. Keintiman dan saling ketergantungan dalam menghadapi dan mengatasi
berbagai kebutuhan setiap hari. Individu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan
hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. Oleh karena itu
individu perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan. (Purwanto dan Riyadi,
2009:154 dikutip dari Stuart dan Sundeen 1995)
Respon
perilaku individu terhadap stresor bervariasi sesuai dengan kondisi
masing-masing. Salah satu respons perilaku yag muncul jika terjadi kegagalan dalam
memberikan koping yang sesuai dengan tekanan yang dialami dalam jangka panjang dapat
mengakibatkan adanya masalah isolasi sosial yang merupakan salah satu gejala
negatif pasien psikotik. (Baca : Dr. Budi Anna Keliat, 2012)
Isolasi
sosial merupakan salah satu gangguan jiwa. Gangguan jiwa sendiri memiliki
pengertian sindrom atau pola perilaku yang secara klinis bermakna yang
berkaitan langsung dengan distress atau penderitaan dan menimbulkan hendaya
(disabilitas) pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. Fungsi jiwa yang
terganggu meliputi fungsi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Secara
umun gangguan fungsi jiwa yang dialami seorang individu dapat terlihat dari
penampilan, komunikasi, proses berfikir, interaksi dan aktivitasnya
sehari-hari. (Baca : Dr. Budi Anna Keliat, 2012)
Di Jawa Tengah saat ini terdapat 30.000 orang yang
mengidap gangguan jiwa. Dari jumlah tersebut, hanya 20.000 orang yang mendapat
perawatan intensif di rumah sakit jiwa.
Menurut data rekam medik tahun 2010,
RSJD Dr. Amino
Gondohutomo Semarang persentase penderita gangguan jiwa pada tahun 2009 adalah
untuk pasien rawat inap untuk laki-laki 65,3% dan untuk perempuannya 34,7%.
Sedangkan pada bulan Januari sampai Agustus 2010; sebanyak
2294 orang, halusinasi 1162 orang (50,65 %), menarik diri 462 orang (20,13 %),
waham 130 orang (5,66 %), harga diri rendah 374 orang (16,30 %), perilaku
kekerasan 128 orang (5,58 %), kerusakan komunikasi verbal 16 orang (0,70 %),
defisit perawatan diri 21 orang (0,91 %),percobaan bunuh diri 1 orang (0,04 %).
(Sumber : Rekam medik RSJ Daerah Dr. amino Gondohutomo
Semarang)
Berdasarkan
data tersebut diatas dimana dinyatakan bahwa isolasi sosial mengalami
peningkatan tiap tahunnya dan menempati urutan kedua masalah kesehatan jiwa
setelah Halusinasi maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “ Asuhan
keperawatan pada Tn ” S ” dengan masalah utama Isolasi Sosial : Menarik Diri di
Dr RSJD AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG”.
Oleh
karena itu peran serta perawat psikiatri dalam memberikan asuhan keperawatan
dituntut untuk dapat menciptakan suasana yang dapat membantu proses penyembuhan
dengan menggunakan hubungan terapeutik melalui usaha pendidikan kesehatan dan
tindakan keperawatan yang dapat membantu proses penyembuhan dengan menggunakan
hubungan terapeutik melalui usaha pendidikan kesehatan dan tindakan keperawatan
secara komprehensif yang diajukan secara berkesinambungan karena penderita
isolasi sosial dapat menjadi berat dan lebih sukar dalam penyembuhan bila tidak
mendapatkan perawatan secara intensif
1.
Tujuan
umum
Untuk
mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan
keperawatan dan komunikasi terapeutik pada klien dengan masalah utama Isolasi
Sosial : Menarik Diri, melalui pendekatan proses keperawatan.
2.
Tujuan
Khusus
a. Untuk
memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan pengkajian pada klien dengan masalah
gangguan keperawatan jiwa.
b. Untuk
memperoleh pengalaman nyata dalam membuat diagnosa keperawatan dan penetapan
rencana asuhan keperawatan pada klien dengan masalah gangguan keperawatan jiwa.
c. Untuk
memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan tindakan keperawatan pada klien
dengan masalah gangguan keperawatan jiwa..
d. Untuk
memperoleh pengalaman nyata dalam mengevaluasi hasil tindakan keperawatan pada
klien dengan masalah utama Isolasi Sosial : Menarik Diri.
e. Untuk
memperoleh pengalaman nyata dalam menerapkan konsep komunikasi pada klien dengan
masalah utama Isolasi Sosial : Menarik Diri.
f. Untuk
memperoleh pengalaman nyata dalam pendokumentasian asuhan keperawatan klien
dengan gangguan keperawatan jiwa.
g.
Dapat membandingkan kesenjangan antara teori dengan
kenyataan yang penulis dapatkan.
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut
:
1.
Institusi pendidikan keperawatan
Sebagai sumber informasi dan bahan bacaan pada
kepustakaan institusi dalam meningkatkan mutu pendidikan pada masa yang akan
datang di bidang keperawatan.
2.
Institusi pelayanan kesehatan
Sebagai masukan bagi perawat pelaksana di Unit Pelayanan
Keperawatan Jiwa dalam rangka mengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan khususnya pada klien yang mengalami perubahan proses pikir
: Isolasi Sosial : Menarik Diri.
3.
Penulis
Sebagai tambahan pengalaman dan pengetahuan bagi penulis
dalam penerapan ilmu yang telah didapatkan selama pendidikan.